Tugas II4033 Forensik Digital

Elisabeth Levana 18218032

Seiring dengan perkembangan teknologi, pelaku kriminal juga memanfaatkannya sebagai sarana untuk melakukan kejahatan. Salah satunya dengan melakukan rekayasa pada gambar secara sebagian atau keseluruhan pada isinya atau konteks gambar dengan bantuan teknik pemrosesan citra digital. Salah satu jenis rekayasa gambar adalah image splicing, yaitu teknik manipulasi gambar dengan memotong beberapa bagian dari sebuah gambar dan menempelnya ke gambar lain. Rekayasa pada gambar ini dapat mengakibatkan dampak negatif yang besar, seperti menimbulkan opini atau persepsi baru terhadap suatu kejadian. Oleh karena itu, diperlukan metode pengecekan terhadap keaslian gambar yaitu melalui forensik citra digital. Sebuah gambar perlu diperiksa dan dianalisa terlebih dahulu untuk dideteksi keasliannya.

Sebagai percobaan dalam tugas kali ini, mari kita gunakan gambar berikut.

Jika dilihat sekilas, maka gambar diatas terlihat normal. Namun, bisa saja gambar tersebut sudah dimodifikasi secara digital. Dalam proses forensik citra digital, kita dapat menggunakan bantuan berbagai tools seperti JPEGsnoop dan Forensically.

JPEGsnoop adalah software yang dapat memberikan informasi mengenai metadata gambar seperti ukuran gambar, perkiraan kualitas JPEG, setting resolusi JPEG, waktu pengambilan/modifikasi gambar, quantization table matrix (chrominance dan luminance), chroma subsampling, tabel Huffman, EXIF metadata dan informasi lainnya.

Dari informasi tersebut, tertulis bahwa “Image is processed/edited” yang berarti gambar ini sudah dimodifikasi. Dari informasi pada gambar di bawah, kita bisa melihat bahwa gambar dimodifikasi menggunakan GIMP pada tanggal 14 September 2020. GIMP (GNU Image Manipulation Program) adalah software rekayasa grafis yang dapat digunakan untuk mengubah resolusi dan memotong gambar, mengubah warna, menggabungkan berbagai macam gambar atau mengkonversi berbagai macam jenis gambar.

Error Level Analysis (ELA) adalah algoritma kompresi JPEG untuk deteksi forensik citra digital. Konsep dari metode ELA adalah gambar dibagi menjadi blok 8x8 dan dikompres di tingkat kesalahan x%. Jika gambar benar-benar tidak dimodifikasi, setiap persegi akan memberikan tingkat kualitas yang sama. Daerah dengan warna yang sama dan tepi yang mirip pada gambar harusnya memperlihatkan tingkat eror yang konsisten. Berikut adalah contoh hasil analisis foto menggunakan Error Level Analysis (ELA) menggunakan website FotoForensics pada foto bumi datar yang merupakan hasil manipulasi.

Sekarang, dengan menggunakan website Forensically, kita akan mencoba melakukan forensik citra digital dengan ELA pada gambar yang diberikan.

Dengan Error Level Analysis, didapatkan bahwa terdapat bagian langit di atas gedung pada gambar yang memperlihatkan inkonsistensi tingkat eror membentuk lingkaran yang meninggalkan bekas warna lebih gelap. Dari analisis ini, dapat diketahui bahwa gambar telah mengalami modifikasi yang kemungkinan besar adalah dilakukan retouching pada bagian suasana langit pada gambar.

Information System and Technology Student at Institut Teknologi Bandung.

Information System and Technology Student at Institut Teknologi Bandung.